Bermandi cahya mentari
Diterik siang hari
Tanpa mu disini
Katakata ku jadikan puisi Lanjut membaca
Arsip Penulis: nasruddin oos
POLITIK CINTA
Manisku, senja berkabut berwarna abuabu kekuningan, hujan masih turun dalam irama suara petir
Manisku, dingin hujan ku nikmati bersama segelas bandret dan pisang goreng
Ku bercerita dengan mu saja, pun mereka masih bergelut perhitungan suara Pilkada, ya ada terdzalimi oleh penjahat pemilu Lanjut membaca
SANG PECINTA
Satu karya baru
Tentang cinta warna biru
Semakin aku menjauh
Ianya kian dekat
Hingga sampai saat ini
Sulit ku berpaling
Dari senyum manisnya Lanjut membaca
APA YANG KAU CARI
APA YANG KAU CARI
Meramu mimpi dalam lelap tidur malam
Tiada lagi kemesraan
Ketika bibir manis mu melumat kata
Saat kau tinggalkan kidung malam
Hanya mimpi-mimpi siang hari
Perih pada desir angin Lanjut membaca
Selamat Tinggal Sayang
Hujan masih menyisakan rintiknya digelap malam dingin menyerang disaat itu pun PLN mematikan listriknya selasa malam, sepeda motor sebagai alat kami menuju untuk menikmati secangkir kopi panas. Ban sepeda motor mulai melumat aspal goreng yang menempel dijalan sorotan lampu dari arah berlawanan menyilau. Lanjut membaca
ML Adalah Cinta
Rambut hitam lurusnya telah memutih, diubunubun
Aura cantiknya masih terpancar
Pun dia sudah tak gadis lagi
Sebab dia ibu dari anakanaknya
KEPAKKAN SAYAP
Hari itu aku membaca puisi cinta
Karya orang yang belum bernama
Tapi dia lagi menamai dirinya
Dengan sandi yang mudah diingat, semudah orang mengigat cinta
Curhatan kecil untuk si OOS
Curhatan kecil untuk si OOS
“ meucaroeng – caroeng keuh kah inan”
Oleh : KASMA YULIE
Hmm…kalimat itu lah yang sering dilontarkan kepada saya, ketika saya berada pada titik atau persimpangan yang harus saya pilih untuk dilalui, atau kalimat itu juga sering dilontarkannya dengan raut wajah yang sangar tapi “ tidak” menakutkan. Ketika berada pada meja diskusi atau ketika saya memprtahankan” hujjah” saya untuk suatu pembenaran yang saya lakukan atau sebaliknya. Lanjut membaca
OOS, Menakutkan!
Lelaki itu suaranya sangat tegas dan lantang, nyali lawan bicaranya menciut, pemilik tubuh kira-kira 162 cm ini berambut kriting, postur badannya sedikit tegap. Warna kulit hitam, hitam pula selalu warna pembungkus tubuhnya yang telah menjadi warna favoritnya itu terlihat tiap aku jumpa dengan orang yang bernama lengkap Nasruddin OOS.
Tepatnya 2 (dua) tahun lalu ku mengenalnya saat aku menapak kaki di LPM Unmuha, sering merepet cirri khasnya bila saja pekerjaan tidak sesaui, ah repetannya itu terkadang banyak yang tak mengerti karena dia banyak menggunakan kata istilah maupun kiasan, apa karena mungkin dia orang Abdya?, orang Abdya pandai bersyair hal sering ku dengarkan, bicara logat Acehnya Abdya banget sungguh mengental, lucu dan unik terkesan ketika mengoceh, orang akan tahu jika dia tersenyum bahwa dia baik hatinya serta peramah. Lanjut membaca
Biasa Saja Tanpa Mu
Hujan kembali turun disiang ini
Pun bayangan mu telah beranjak pergi
Tak ada bekasbekas luka mengangga
Tak ada air mata kecewa
Pun sedih hanya diawal saja
seperti siang ini matahari pun enggan menumpakkah pansnya
Ada rasa kau bawa
Seperti gelombang laut menyisakan buih
Hujan saat kau dan aku tak lagi berkata Lanjut membaca
Ketika Penguasa…
Ketika Penguasa berselingkuh dengan pengusaha
RAKYATLAH merana
Duhai MANISKU…
Langit begitu cerah membiru haru
Ungkapkan, katakan, tataplah
Kau mengerti!! Lanjut membaca
OOS Antara Pelipur Lara dan Penindasan Kreatifitas
Sebuah pesan untuk kawan
Saat indera mengintip dari celah pemikiranku
Membaca dan menilai kelakuan mu
Ketika mata mengintai tubuh kusam mu, tapi penuh makna
Disaat itu sukma memberi penghargaan untuk mu
Meski aku tidak pernah berbicara tentang aura Lanjut membaca
MANISKU
Ketika Penguasa berselingkuh dengan pengusaha
RAKYATLAH merana
Duhai MANISKU…
Langit begitu cerah membiru haru
Ungkapkan, katakan, tataplah
Kau mengerti!!
Beraksilah atas saksisaksi jiwa mu
Pun dalam perang tak ada cinta
Walau dalam cinta selalu ada peperangan Lanjut membaca
Helaian Kata Lembaran Do’a
Kau sudah melupakan, wahai bidadariku
Kau telah kembali kekayangan
Sulit dijangkau akal sehat ku
Haruskah aku membenci pagi
Ketika ia datang mimpi ku berakhir Lanjut membaca
TERIAKAN WAKTU
Ketakmampuanku menciptakan sayap
Seiring berterbangan burung pulang ke halaman
Rentetan jiwa kian berpacu
Diantara gejolak jiwa teduh
Duhai kau perempuan Lanjut membaca
BINATANG LIAR
Kenapa kau hitamkan pemikiran cinta
Lalu berkata begitu mudah menjadi manusia berakhlak
Apalagi politikus berbudi luhur
Terpampang ditepi jalan baliho-baliho, spanduk mu Lanjut membaca
Tapak Tuan
Ku Rindu Pada Mu Merindu
Kau berdiam diri dalam gelap
Lampu teplok ku tawarkan
Kau sangsi dan ragu akan cahayanya
Bias alasan mu berasap dan memberi noda hitam Lanjut membaca
Duhai Penari Jiwa Ku
Dalam hening cawan ku lihat wajah mu
Dalam kelam malam bayangan mu bermain
Belum saja keliru ku terjemahkan
Arti hadir mu di petang hari Lanjut membaca

