Do’a Kekasih
(Khusus Buat RITA JUNIA SARI)
Separas wajah rembulan
Tersenyum melihat pergolakkan dirimu
Seuntai kata ku lahirkan tuk mu
Wahai perempuan yang ku cintai
Antara aku dan dia tidak ada apa-apa
Itu ku katakan pada hari bersejarah dalam mu
Hari dimana kamu dilahirkan
Saat pertama kau menatap dunia dengan tangisan disela tawa
Aku ingin menemanimu melewati hari besok dan esok
Dalam dekap cinta kasih bersama mu sayangku
Di hari jadi mu ini
Hanya do’a yang tulus ku panjatkan
Semoga kau temukan cita-cita dan impian mu
Yang berbekal do’a kasih suci
Sebagai hadiah kado ultah mu
Malam ini kau kembali menangis sayangku
Persis seperti semula
Hanya suara sedikit pelan
Ku hapus air mata dengan sapu tangan kasih sayangku
Ku peluk dalam belaian zikir
Semoga dirimu bahagia selamanya
Wahai perempuan yang ku cintai
Ku Ucapkan Selamat Ulang Tahun Untuk Mu
Semoga panjang umur dan bahagia dalam pelukan mu
By. NASRUDDIN, 26 Desember 2009
JATUH LURUH
INAS.OOS
14 April ‘07
Di pagi hari ku awali do’a dan harapan
Yang terus tumbuh hingga tercermin dalam mimpi
Dengan mata ku cari
Apa yang menjawab hayal indah ku selama ini
Apa yang mewujudkan
Aku tak tahu apa yang mesti ku lakukan
Dan apa yang mesti ku abai
Semua datang silih berganti
Sanjungan dan hujatan
Pada apa terharapkan
Sungguh jauh dari dugaan
Sendiri ku hapuskan semua rindu ini
Gelapnya malam
Terdiam bagai segumpal tanah
Yang tenggelam
Melayang angan ku
Untuk bertemu dengan cinta ku
Tapi entah kapan waktunya
Sejuta makna arti cinta mu
Rasa ini telah terpetik
Jatuh luruh dihadapan mu
Kemarin ada seuntai kata
Kau ucap tanpa sadar
Tapi penuh makna
Tak mungkin yang didunia ini ‘kan abadi
Mengapa begitu cepat hari itu berlalu
Ku termenung menggenang saat bersama mu
Canda tawa mu dan suka duka mu
Ku berhayal kapan semua ‘kan terulang kembali
Isak tangis ku mengiringi
Rintik hujan datang mengusir bintang
Kau yang pergi bukan ‘tuk kembali
Dalam musibah minggu pagi
Gelombang Tsunami membawa kau pergi
Hanya tinggal selembar fotret mu
Yang ‘kan ku jadikan kenangan hidup ku
Puluhan ribu mayat tak ku kenal
Bergelimpangan dimana-mana
Dipojok-pojok jalanan juga dipinggir kali
Maupun dibawah reruntuhan bangunan
Mungkin satu diantara puluhan ribu mayat itu
Adalah kamu sahabat ku
Kedua tangan ku menadah keangkasa
Memanjatkan do’a pada illahi rabbi
Semoga Tuhan s’lalu disisi mu
Menemani dalam tidur panjang mu
Sahabat bahagia mu abadi s’lamanya
INAS OOS
BNA, 26 Des 2004
“SENGAJA TAK KU BUAT JUDUL”
Aku tau kau biasa hidup mewah
Bahkan aku menceritakan tentang kemelaratan
Kita terdiam sayang ku
Disebuah bangunan yang hampir runtuh
Bahkan kita tak bicara sepatah kata
Ku tau saat kau elakkan tubuh mu
Yang enggan ku peluk di malam itu
Kita tak lagi bicara
Tentang melati menguncup dimalam hari
Atau berapa bebek dan ayam tak pulang dalam kandang
Mungkin terperangkap dalam kuali orang masak indomie
Bahkan hal-hal kecil tak terdengar dikala itu
Aku memperlihatkan sebuah kemiskinan harta
Sekumpulan orang-orang memperhitungkan
Akhirnya kau tau tingkah polah masyarakatku
Bahkan kau enggan pulang bersama ku lagi
Kau berdiri
Lalu ku anggap kau perempuan mandiri
Walau tangisan pilu kau sembunyikan
Terisak dalam ego meraja
Kapan kejora itu muncul
Dan nama ku hilang dalam ingatan mu
INAS OOS
Tapak Tuan, 15 Nov 2009
Betapa manja dirimu
Selalu merajuk sapa
Sedang aku kehabisan kata
Untuk ku goreskan kemunafikan mu
Jeritan-jeritan tak berdaya
Menuntut suatu perubahan
Entah perubahan bagaimana didapatkannya
Sedangkan manusia lahir dengan kecuekkannya tersendiri
Terkadang aku harus teriak
Meski tidak harus selalu memaki
Sumpah serakah mu
Tak tau apa aku harus tersanjung
Dengan kemanjaan mu
Atau mengemis akan iba mu
Tidak…!!!?? Tidak…!!!?? Tidak..!!
Aku tak perlu tersanjung
Tak semestinya harus mengemis
Karna aku tau
Kau masih punya hati dan perasaan
Yang kau sembunyikan cinta didalamnya
Walau ada yang berkata padaku
Landasi hidup ini dengan kejujuran
Lebih mudah mendapatkan
Dari pada mempertahankannya
Tapi disini ku pertahankan
Demi untuk suatu perubahan
INAS OOS
BNA. 12 Feb ‘06
DIAM TAK BERBAHASA
Pante Riek, 07 Januari 2008
INAS OOS
Kenapa aku diam
Sedangkan hak bicara itu ada
Dan tetap masih ada
Kenapa aku memilih diam
Apakah diam ku semuanya kembali
Diamkan membawanya semua terulang
Oooo tidak,
Semua takkan kembali
Semua takkan terulang
Tapi kenapa aku diam
Aku diam ada nuasa baru
Aku diam ada rahasia baru
Yang membuat aku kembali terpesona
Akan tingkah-tingkah kelihatan
Diam memang bukan bahasa
Diam bukanlah bahasa terbaik
Sebagaimana aku pelajari
Tapi aku memang memilih diam
Karena aku butuh diam saat ini
Karena dengan diam ini
Membuat bahagia
Memberi kebahagiaan
Terkadang menyenangkan hati juga
Diam ku bukan pengkhiatan
Sebagaimana yang pernah ku lontarkan dalam satu waktu
Semua terukur denan alat ukur
Semua terprediksi
Jelas sudah
Diam ku terisi kekosongan
Hanya hampa bersanding
Menempel didinding kalbu
Tak ada tanya
Tak ada tawa
Hanya sepi dalam diam
Aku masih binggung memikirkan hal masih terpikir
Merenung yang terenung
Meresahkan apa yang teresahkan
Ya,
Seolah-olah aku lah paling terikat
Segenap ruang memahami makna terpahami
Seolah-olah aku lah yang terlepas
Dari jerat belenggu penindasan domestik kolonialisme
Aku mau menciptakan feksibel percintaan
Pada aura-aura para-para penguni
Dibawah gelap malam ada lampu warna-warni
Terhiasa didinding warna merah jambu
Tapi aku masih diam
Menelusuri jejak hitam
Pada bekas luka lama

dok / INAS OOS
Lihat lebih dalam
Sebelum berkata-kata
Sebentar lagi 1 Syawal tiba
Dalam peradaban anak manusia
Ada hidup yang terlunta-lunta
Ah dunia
Dikala suara-suara takbir berkumandang
Dimalam hari raya idul fitri
Ku teringat kampung halaman
Dimana masa kecil ku dihadiahkan baju
Petanda lebaran tiba
Aku tak selalu terlihat
Aku akan selalu disana
Dalam belaian kasih sayang mu Ayah Ibu ku
Sudah saatnya saling memaafkan
Sudah saatnya kembali fitrah
Selamat Hari Idul Fitri 1 Syawal 1430 H
Mohon Maaf Lahir & Batin
INAS OOS
BNA. 17 SEP 2009

foto / Rita JS
Kembali aku berkata-kata dalam untaian kata-kata
Sebuah kata yang ingin aku kata-katakan
Jenuhkah dengan kata-kata ku
Muakkah dengan diriku
Karena menghilangkan simbol tuk kamu kata-katakan
Bahwa kita telah berkata-kata dalam hari-hari yang terlewati
Dalam kurun peradaban kita kata-katakan
Kini kian jauh terasa
Kian memudar warna tercipta
Kita poles dalam bahasa untaian kata-kata
Sudah terlalu jauh kata dan kata-kata
inas oos

dok / inas oos

dok oos
Kata-kata itu masih jelas
Seperti pertama kau tulis
Anak cucu mu tak menghargai
Katanya terlalu kuno
Tak sesuai dengan zaman ini
Bait-bait itu masih tersusun rapi
Nasehat kau tulis lewat pantun
Anak cucu mu membantah
Katanya itu tahayul
Buku tua itu telah usang
Dimakan usia
Warnanya telah pudar
Tapi kata-katanya masih jelas
Tentang impian mu
Generasi mu jadi pemimpin
Impin mu telah lama hilang
Seiring kau menghilang
Dari dunia ini
Bathoh, 26 Juli 20006
INAS.OOS
